Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Technorati button
Reddit button
Myspace button
Linkedin button
Webonews button
Delicious button

Daya Dongkrak “Biyunge” dan “Kiaine” dalam Pilbup Kebumen

Pilkada tahun 2005 lalu, saat Rustriningsih mencalonkan diri lagi dengan pasangan Nasirudin, ia terkenal dengan sebutan “Biyunge”. Barangkali predikasi “biyunge” yang disematkan public kepadanya merupakan simbol kedekatan dirinya dengan sebagian besar warga Kebumen. Tak hayal lagi, pasangan ini memenangkan Pilkada kala itu dengan mudah.

Predikat “biyunge” ternyata masih cukup mujarab mendongkra nama Rustri ke pentas politik wilayah dalam perebutan kursi gubernur-wakil gubernur Jawa Tengah 2008 lalu. Kini, menjelang Pilkada 2010 publik menyematkan predikat “kiaine” pada calon incumbent Nasirudin. Bukan mengada-ada, tapi memang sejak dulu tokoh yang satu ini sudah akrab dengan panggung kiai yang membawanya terkenal seantero Kebumen. Biarpun dia sudah menjadi pejabat public sejak tahun 2000, sebutan “kiaine” kerap kali lebih sering terujar dari mulut warga, tinimbang sebutan wakil bupati atau bupati.

Dalam kajian semiotik “biyunge” boleh jadi merupakan ungkapan rasa kedekatan publik dengan sang aktor. Kedekatan rasa barangkali lebih dekat tinimbang ikatan politik. Ikatan politik tak meggaransi adanya kekuatan mobilisasi kekuatan massa. Tapi kehadiran ikatan rasa, senasib dan sepenanggungan ke tengah-tengah pergaulan publik mempu menyajikan energi dahsyat untuk menggalang suara. Tak hanya dalam momentum politik praktis, bahkan tak jarang kerusuhan membara, hanya karena ikatan rasa warga tersulut oleh sebuah isu yang menyakitkan ikatan rasa mereka. Paska reformasi, Rustriningsih mampu memainkan peranya sebagai sosok perempuan yang dekat dengan segala lapisan warga dalam tubuh partai politik yang kala itu (97-98) bersitegang dengan rezim orde baru. Kepiawaianya dalam memeluk ikatan batin warga banteng yang tertindas karena perilaku otoritarianisme orde baru membawanya pada posisi penguasa Kebumen sejak tahun 2000.

Energi positif semiotika “biyunge” berkelindan kuat dengan tanda (sign) lain bernama “kiai”. “Kiai” bagi orang Jawa barangkali manusia setengah dewa. Tak jarang, ketika seseorang dalam kesulitan karir, kekayaan, jauh jodoh dan lain-lain banyak datang ke kiai untuk mencari wejangan demi menenangkan kegundahan hati dan pikirannya. Saking besarnya kharisma sang kiai di mata warga, tatakala seorang kiai meninggal, pusaranya banyak ikunjungi peziarah, untuk mencari berkah dari sang kiai. Nasirudin yang bergelar kiai, tentu memberikan injeksi energi tersendiri yang semakin memperkokoh predikat “biyunge” yang tersemat pada diri Rustriningsih. Barangkali perpaduan kekuatan inilah yang mampu mengahntarkan pasangan ini sampai dua periode.

Nah, 2010, mampukah energi semiotik “kiai” memobilisasi kekuatan batin/rasa warga Kebumen pada Pilkada nanti? Kemarin, seorang temen, bercerita kepada ayahnya tentang preferensi politik Pilkada Kebumen. Jawaban sang ayah dengan spontan, “ya kiaine”. Spontanitas jawaban, mencerminkan energi semiotik “kiai” beyond ruang sadar ayahnya. Integrasi energi semiotik “kiai” dalam diri seseorang yang sangat kuat ini, boleh jadi menjadi tantangan berat yang harus dihadapi lawan-lawan politik calon yang telah mendeklarasikan dirinya berpasangan dengan salah satu kader PDIP.

Memang pasangan Naspro hingga saat ini belum mengeluarkan jargon-jargon politik sebagai manifestasi kampanye politik menjelang Pilkada, sebagaimana calon lainya. Apakah pasangan ini sudah cukup aman dengan ikon “kiai” yang menjadi sadangan harian Nasirudin? Bisa iya, juga bisa tidak. Menyimak produksi dan reproduksi jargon-jargon politik sebagai mantra pemikat suara publik dari kubu Buyar Winarso, Kang Juki maupun Poniman yang terus diintrodusir ke tengah ingatan kolektif masyarakat, akan berbentur dengan ikon “kiai” yang lebih dulu hadir dan menghujam dalam ruang bawah sadar masyarakat.

Lalu, mampukah jargon-jargon seperti “Insyaalloh Aku Sing Ngerti Karepmu”,”Meringankan Beban Masyarakat Kebumen”, dan lain-lain yang diproduksi Buyar Winarso dan Poniman akan mengalahkan ikon “kiai” yang terlanjur menjadi trade mark Nasirudin? Kalu benar kedua calon ini (Buyar dan Poniman) sama-sama pengusaha, mampukah energi semiotik “juragan” sebagai sebutan lain seorang pengusaha akan membawa mereka pada cerita sukses meraih kekuasaan Kebumen 1?  Kita lihat saja nanti…!

Borni Kurniawan, wong bumen, aktif di Bumi Roma Institute Kebumen.

  • Share/Bookmark

Related Posts

  1. Proposal Pertandingan Tinju Cabup Cawabup dalam Pilbup Kebumen 2010
  2. Wongbumen.info ikut pilbup Kebumen 2010
  3. Politik pilbup sing penting ulih suara
  4. Siapa diuntungkan Pilbup Kebumen 2010?
  5. Swinging Dolob Pilbup Kebumen

Filed Under: Pilbup Kebumen 2010

Tags:

RSSKomentar (4)

Beri Komentar | Trackback URL

  1. admin says:

    plugin penyambung antara facebook dengan wordpress mengalami gangguan. Akibatnya, untuk komen-komen postingan ini tidak bisa menuju kesini otomatis. Komentar masih temangsang di facebook. Silahkan lihat komen-komen postingan ini di note berikut ini:

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=273485386055&comments=#/note.php?note_id=273039276055

  2. Eko wahyudi Ketua DPC Repdem Kebumen says:

    Jelang pilbup

    Rakyat Men”dongkrak” Nilai Tawar

    Rakyat sudah mendongkrak untuk pembangunan kebumen, pembangunan tanpa kesadaran daya gaya dongkrak, kebumen tidak di beri good governance award.

    Kyai dan Biyunge jadi panutan rakyat dan pernah berjasa, dan berbuat, karena adanya gaya dan daya dongkrak atas kepedulian dan pengghargaan pengetahuan rakyat dalam peran serat urun rembug (partisiatif)atas kebijakan pembangunan di Kebumen.

    Dongkrak mendongkrak suara untuk Pilbup ini, rakyat pasti sudah paham politik dan tidak salah jatuh pilihannya, mana yang didongkrak mana yang tidak didongkrak?. Mana yang di coblos mana yang yang hanya dilihat saja.?

    Mendongkrak suara bukan tugas rakyat saja, tetapi mendongkrak beban rakyat dan beban atas kejenuhan kehidupan sehari- hari ini rakyat juga bisa.

  3. Mas Iyank says:

    Wah kalau tidak kuat dengan dongkrak ya dibantu dengan katrol dan kalau tidak juga naik bisa dengan BULDOZER. Maksude dari salah satu partai pengusung cabup jelas sudah punya strategi jika dinilai kurang dalam mendapatkan suara nantinya akan dibantu ole saudaranya yang sekarang menjadi pejabat ssatu tingkat diatasnya dan bahkan apabila ternyata masih dikhawatirkan kalah akan diturunkan atasannya lagi alias dengan istilah turun gunung (kaya pertapa aja yaaa!!!)tak ngombe banyu putih disit lah

  4. Wong sekarang pemilih wis do cerdad2 .. biso milih tanpa terpengaruh.. dongkrak2 antik. tapi sebagian ya ada ya masih ngemum kiaine.. + biyungane..tapi mesin politik juga berpengaruh besar lho..

Beri Komentar lho...




Nek kepengin jenenge rika ana gambare, monggo damel Gravatar teng mriki!.