Nahdliyyin Jangan Digiring ke Politik Praktis
By admin on Feb 04, 2010 with Comments 83
Suara Merdeka, Kebumen- Pernyataan Ketua PCNU, Drs H Masykur Razzaq agar Nahdliyyin menunggu intruksi PCNU dalam menentukan pilihan di Pilbup 2010 disesalkan oleh anak muda NU. Pernyataan itu mengesankan NU dianggap sebagai partai politik.
“Saya sangat menyesalkan pernyataan Pak Masykur bahwa PCNU akan memberikan intruksi kepada Nahdliyyin dalam menentukan pilihan,” kata aktivis anak muda NU, Akhmad Murtajib, Kemarin.
Murtajib mengungkapkan beberapa alasan pernyesalan itu. Pertama, Nu bukanlah organisasi politik. Apabila NU telah tegas dengan khittahnya. Selain itu, bila melihat kenyataan bahwa warga NU beragam orientasi politik praktisnya. Akan sangat melukai perasaan warga NU yang orientasi politiknya berbeda dengan intruksi tersebut.
Kedua, bila intruksi itu akan dikeluarkan, sama artinya PCNU kurang belajar dari pengalaman sebelumnya. Bahwa aksi dukung-mendukung itu malah merugikan warga NU. Apalagi bila calon yang didukung PCNU tidak jadi. Kewibawaan NU semakin meluntur.
Murtajib menduga, gagasan pengeluaran intruksi itu bukanlah murni dari PCNU. “Saya kira gagasan untuk mengeluarkan intruksi itu bukan murni dari PCNU. Saya yakin dengan kejernihan berfikir Syurah dan Tanfidziah PCNU dalam melihat masalah politik, tak akan melahirkan intruksi macam itu. ” kata dia.
Bisikan
Murtajib justru mencurigai gagasan dikeluarkannya intruksi itu berdasar bisikan dari beberapa elite NU yang orientasi politiknya memihak kepada salah satu bakal calon bupati. Bisa jadi mereka adalah elite PCNU sendiri, atau berasal dari badan otonom atau bahkan perguruan tinggi NU. Mereka ingin memanfaatkan NU untuk kepentingan politiknya sendiri. Bila benar demikian, diharapkan kepada syuriah dan tanfidziah untuk tidak mendengarkan mereka.
Murtajib juga menanggapi pernyataan Masykur Razzaq tentang persatuan warga NU yang berjumlah sekitar 80 persen dari 1,3 juta jiwa bersatu, maka kepentingan NU bisa tercapai. Terus terang dia kurang setuju dengan gagasan persatuan yang disampaikan Masykur.
Kekurangsetujuan itu karena gagasan tersebut hampir mustahil dalam konteks realitas politik saat ini. Selain itu, hanya untuk kepentingan mendukung seseorang calon bupati. “Justru yang penting sekarang adalah persatuan dalam konteks mendorong NU menjadi organisasi tempat berkiprahnya semua potensi warga untuk memberdayakan diri, ” tandas aktivis blogger Kebumen itu. (B3-89)
Sumber: Suara Merdeka, Kamis Pon, 4 Februari 2010
Related Posts
Filed Under: Featured • Pilbup Kebumen 2010





Meng NU kan politik boleh, mempolitiki NU jangan..
Meng NU kan politik boleh, mempolitiki NU jangan..
kata siapa netral pcnu dalm pilbub , kamu harus jelih.NU itu engga netral kalo nettral mumet NU . besok lihat di acara 40 Hari meningalnya gusdur ada apa lelang apa yelang di pilbub……
aku be ya NU= nunut udud
nek aku repot banget le nu = nunut urip melu mertua je
kelompok Islam garis keras terus merongrong kewibawaan NKRI yang multireligius (didalamnya beeragam agama) dan multikultural (beragam budaya, termasuk etnik). BIla jujur melihat sejarah, NU lah yang pertama kali menerima kebinekaan..dan spirit itu mesti terus digaungkan oleh para penerusnya…….Almarhum Gus Dur telah tiada, dan NU lah yang mesti menyonsong perjuangan menegakkan kebinekaan itu…karena pemeliharaan kebinekaan adalah prasarat utama NKRI….sementara sampai kini, kelompok Islam garis keras terus menerus menggerogoti kewibawaan NKRI….kalau sudah begitu, dan NU masih sibuk berpolitik praktis….siapa lagi yang bia diharapkan memperjuangkan kebinekaan itu?
berikut ini adalah link tulisan di blog wong bumen, tentang pertemuan pengurus NU se Kedu….pada Agustus 2007. Pertemuan membicarakan mengenai penegasan sikap kebangsaan dari kalangan NU ketika melihat mulai munculnya tanda-tanda akan pecahnya negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu disebabkan ada sekelompok umat Islam yang hendak memaksakan syariah Islam sebagai konstitusi negara. Padahal, Indonesia adalah negara yang sangat plural, yang tidak mungkin menjadikan salah satu dasar agama menjadi dasar negara.link disini: http://wongbumen.info/2007/08/23/pengurus-nu-kedu-pleno-di-kebumen/
ini juga tulisan dari pembaca blog wong bumen pada September 2007. Dia menulis pengalamannya ketika punya anak yang sekolah di TKIT tapi tidak tahu Indonesia raya. "Nasionalisme yang hilang," itu judul tulisannya. Silahkan lihat disini tulisan lengkapnya: http://wongbumen.info/2007/07/09/nasionalisme-yang-hilang/
mereka, orang dari kelompok gais keras itu, sangat merasa Islami sendiri……padahal kalau mau jujur, ahli studi Islam itu tempatnya ya di Pesantren dan di NU… Lha,kalau NU-nya disibukkan oleh politik praktis?
untuk link berkait, dan ini link masih baru, bisa dilihat disini: http://tiny.cc/XNJto atau disini: http://tiny.cc/oEheG
para sedulur, besok pagi pukul 06.00-06.30 acara Baca Blog dan Facebook di Ratih TV Kebumen……beberapa komentar di status ini insyaAllah akan dibaca, senang sekali bila para sedulur melu diskusi live….tentang acara itu bisa dilihat disini: http://www.facebook.com/notes/wong-mbumen/baca-blog-facebook-secara-live-di-ratih-tv-kebumen-ayo-gabung/284507051055atau disini: http://wongbumen.info/2010/02/06/baca-blog-facebook-secara-live-di-ratih-tv-kebumen-ayo-gabung/
kelompok Islam garis keras terus merongrong kewibawaan NKRI yang multireligius (didalamnya beeragam agama) dan multikultural (beragam budaya, termasuk etnik). BIla jujur melihat sejarah, NU lah yang pertama kali menerima kebinekaan..dan spirit itu mesti terus digaungkan oleh para penerusnya…….Almarhum Gus Dur telah tiada, dan NU lah yang mesti menyonsong perjuangan menegakkan kebinekaan itu…karena pemeliharaan kebinekaan adalah prasarat utama NKRI….sementara sampai kini, kelompok Islam garis keras terus menerus menggerogoti kewibawaan NKRI….kalau sudah begitu, dan NU masih sibuk berpolitik praktis….siapa lagi yang bia diharapkan memperjuangkan kebinekaan itu?
berikut ini adalah link tulisan di blog wong bumen, tentang pertemuan pengurus NU se Kedu….pada Agustus 2007. Pertemuan membicarakan mengenai penegasan sikap kebangsaan dari kalangan NU ketika melihat mulai munculnya tanda-tanda akan pecahnya negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu disebabkan ada sekelompok umat Islam yang hendak memaksakan syariah Islam sebagai konstitusi negara. Padahal, Indonesia adalah negara yang sangat plural, yang tidak mungkin menjadikan salah satu dasar agama menjadi dasar negara.link disini: http://wongbumen.info/2007/08/23/pengurus-nu-kedu-pleno-di-kebumen/
ini juga tulisan dari pembaca blog wong bumen pada September 2007. Dia menulis pengalamannya ketika punya anak yang sekolah di TKIT tapi tidak tahu Indonesia raya. “Nasionalisme yang hilang,” itu judul tulisannya. Silahkan lihat disini tulisan lengkapnya: http://wongbumen.info/2007/07/09/nasionalisme-yang-hilang/
untuk link berkait, dan ini link masih baru, bisa dilihat disini: http://tiny.cc/XNJto atau disini: http://tiny.cc/oEheG
mereka, orang dari kelompok gais keras itu, sangat merasa Islami sendiri……padahal kalau mau jujur, ahli studi Islam itu tempatnya ya di Pesantren dan di NU… Lha,kalau NU-nya disibukkan oleh politik praktis?
Ini berita dari Kompas.com:
———————————————————
NU Lepas dari Politik PraktisDiusulkan, Ketua Umum Tak Dipilih LangsungJumat, 5 Februari 2010 | 04:29 WIBJakarta, Kompas – Nahdlatul Ulama harus benar-benar lepas dari politik praktis atau partai politik. Ke depan, NU harus berdiri di atas semua partai politik dan lebih mengedepankan politik kebangsaan atau kemasyarakatan yang didasari nilai-nilai kemanusiaan, bukan kekuasaan. Berita lengkapnya di kompas.com
YA BENAR, TAPI KH.HASYIM MINTA MAAF SECARA TERTULIS ATAS HAL HAL YANG SALAH JADI PEMIMPIN. BESOK DI KONGRESS SURABAYA ATAU MAKASAR (BELUM JELAS) KITA KAWAL, PILIH YANG BENAR BENAR ORANG YANG PAHAM AKAN ASWAJA, DAN AKAN IDIOLOGI NAHDLATUL TUJJAR DAN BUKU PUTIH NU.
BIAR PC NU DAN PW NU DAN BANOM SADAR, BAHWA KITA HARI INI MENJADI AGEN ORANG LUAR, KARENA KITA BELUM SADAR DAN TAHU AKAN POSISI NU, POSISI NU ADLAAH SEBAGO ORMAS KEAGAMAAN. TITIK DAN TITIK
Ini berita dari Kompas.com: ———————————————————NU Lepas dari Politik PraktisDiusulkan, Ketua Umum Tak Dipilih LangsungJumat, 5 Februari 2010 | 04:29 WIBJakarta, Kompas – Nahdlatul Ulama harus benar-benar lepas dari politik praktis atau partai politik. Ke depan, NU harus berdiri di atas semua partai politik dan lebih mengedepankan politik kebangsaan atau kemasyarakatan yang didasari nilai-nilai kemanusiaan, bukan kekuasaan.http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/05/04295750/nu.lepas.dari.politik.praktis
betul, kebanyakan orang hanya pinter nuntut.
betul, kebanyakan orang hanya pinter nuntut.
para sedulur, besok pagi pukul 06.00-06.30 acara Baca Blog dan Facebook di Ratih TV Kebumen……beberapa komentar di status ini insyaAllah akan dibaca, senang sekali bila para sedulur melu diskusi live….tentang acara itu bisa dilihat disini: http://www.facebook.com/notes/wong-mbumen/baca-blog-facebook-secara-live-di-ratih-tv-kebumen-ayo-gabung/284507051055atau disini: http://wongbumen.info/2010/02/06/baca-blog-facebook-secara-live-di-ratih-tv-kebumen-ayo-gabung/
kang masykur-kang masykur…ko yo jenengan kerso nerima pendapat seperti itu. pengurus ra paham sejarah politik Islam Indonesia menejrumuskan Islam dan NU dikuyo-kuyo politik. hasil nggo rakyate ra ono…! Pun panjenengan ngemong mawon, concern didik generasi muda NU-ne ben dadi wong sing bener-bener hendar beni dateng NU…! sing arep politik nganggo NU wis disediakaken partai..! dang metu ko NU mlebuo partai politik. arep sing abang, ijo, biru, butek bening…karepmu…!
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Kepada warga NU sekalian, ingatlah kita tidak usah bersu’udzan akan tetapi berkhusnudzanlah terhadap sesama warga NU itu sendiri agar tidak terjadi perpecahan di tubuh NU itu sendiri. Sebagai keturunan salah satu tokoh NU di Kebumen yang sempat menjadi anggota DPR NU sendiri ternyata beliau almarhum pernah menentang hasil sidang hanya dikarenakan usulan mengenai “Hari ini, detik ini, PKI harus dibubarkan dari Kebumen” dan sebagi penerus beliau yang sekaligus warga NU (nunut usul aja lho karena tidak punya kartu anggota NU) tentang mempersatukan warga Nu itu adalah suatu kewajiban, akan tetapi bukan untuk urusan keduniawian semata akan tetapilebih dititik beratkan pada aqidah yaitu “Ahlus synnah wal Jama’ah”
NU ( secara organisatoris) bisa bae lepas kes aring politik, tapi wargane kan tetep nduwe hak berpolitik. masalahe warga NU ( sing ora nduwe KARTANU ) akeh banget, melane NU ya anget kon ucul soko urusan politik.
Nangapa sih ora olih melu politik…?
Nu kan wis gawe wadah politik…
Ujarku ya sah-sah bae wis…!
Politik itu pola yang menggelitik, untuk itu Warga NU tidak perlu membuat lagi pola yang bisa membuat kita jadi ditertawakan karena NU itu sendiri sudah menggelitik bagi orang yang berfikir dengan bukti adanya para pengamat dari barat yang heran dengan pola pikir NU itu sendiri karena memiliki warga yang begitu besar. Ada apa dibalik NU itu?
Ujare Enyong sih arep berpolitik sah2 baen…
mung aja gawa2 jeneng Ormase lah…